Tak terbesit sedikitpun akan mengalami hal yang kurang mengenakkan ini, tapi bagaimanapun dan mau tak mau harus di jalani buat aku dan istriku. Terutama buat istriku yang pulang setelah melahirkan namun tak dapat memeluk dan menyusui si buah hati, tentu saja ada yang kurang dan hancur pastinya dalam hati. Menangis adalah hal yang dilakukan terus menerus, sedangkan akulah yag bertugas kesana kemari menjenguk anak pertamaku ini, berangkat pagi hanya bisa masuk ruang 1 jam di jam mulai pukul 09.00-10.00 pagi dan di lanjutkan siang serta sore selebihnya saya hanya bisa memandangi lewat kaca saja. Bosan sih tapi itu adalah sebuah kebahagiaan serta ketakutan tentang kesehatan buah hati pertama dalam hidup, belum lagi harus pulang malam dengan rute yang tak ramai alias sepi.
Launa adalah nama anak pertamaku yang berjenis kelamin perempuan, dia adalah anak yang sangat cerewet diusianya yang saat ini sudah masuk tahun ke-4. Berbanding terbalik dengan apa yang terjadi saat kelahirannya, berat badan kurang,tidak menangis, hingga harus masuk ruang inkubator. Pada masa dia lahir saya sangat senang bercampur dengan sedih, karna kelahirannya tidak bisa hanya dibantu dengan bidan dan puskesmas yang ada di kecamatan, dengan sungguh terpaksa launa kecil harus dilahirkan di rumah sakit yang jaraknya 30km dari kampung halamanku. Begitu dag dig dug pada saat prosesi dari sebelum hingga dia lahir hingga saat dia harus dirawat selama 5 hari di rumah sakit. Ada banyak cerita selama 5 hari itu
Komentar
Posting Komentar